Minggu, 04 Oktober 2020

Profil Gangguan BPD (Borderline Personality Disorder) sebagai Pencegah Gangguan Kesehatan Mental



Sehat merupakan suatu keadaan yang dinyatakan sebagai kesejahteraan sempurna, baik pada fisik, mental, lingkungan, dan sosialnya, memiliki karakter yang kuat dengan sifat-sifat kebajikan, serta terbebas dari keadaan berpenyakit dan lemah. Menurut UU Kesehatan No. 23/ 1992, mendefinisikan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. Dalam kasus ini, kesehatan yang sering ditinjau adalah masalah kesehatan fisik dan mental. Ketika kesehatan fisik seseorang dapat disadari oleh pribadi itu sendiri, namun tidak untuk kesehatan mental. World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

Ditinjau dari banyaknya kasus, salah satu jenis penyakit mental yang tergolong ‘sangat umum’ di Indonesia adalah penyakit BPD (Borderline Personality Disorder), dalam Bahasa Indonesia : “Gangguan kepribadian ambang”. Penderita gangguan mental ini bahkan mencapai 2 juta kasus per tahunnya di Indonesia. Cukup serius, Borderline Personality Disorder merupakan penyakit mental yang melibatkan emosi dan pikiran penderitanya, terkadang mereka memiliki masalah terhadap hubungan antar manusia yang tidak stabil disebabkan perasaan yang tak menentu. Gejala-gejalanya yakni ketika penderita memiliki ketakutan untuk ditinggalkan. Mereka akan merasa depresi, marah, dan gelisah jika mereka diabaikan atau ditinggalkan, misalnya ketakutan akan ditinggal keluarga, teman, dan sahabat. Selain itu, ada pula penderita memiliki hubungan yang tidak stabil pada relasinya, contohnya ketika mereka memiliki keluarga atau seseorang yang dicintai, namun tidak jelasnya tiba-tiba membenci mereka tanpa alasan tertentu. Penderita BPD juga memiliki sifat impulsif, yakni melakukan tindakan seperti berjudi, narkoba, bahkan menyakiti diri sendiri. Tanda inilah yang memiliki tingkat berbahaya bagi nyawa ketika penderita BPD menyakiti diri sendiri hingga memiliki keinginan untuk bunuh diri. Dilansir dari hellosehat.com, sekitar 4-9% dari seluruh penderita BPD memiliki kecenderungan niat untuk bunuh diri atau melakukan percobaan bunuh diri. Perilaku ini pun didasari pula oleh sifat pribadi yang memandang akan tidak jelasnya citra diri sendiri. Penderita terkadang memiliki sifat optimis terhadap diri sendiri, namun seiring perubahan pola pikir dan presepsi terhadap dirinya yang tidak stabil membuatnya memandang rendah dan membenci diri sendiri. Mereka menilai diri mereka buruk dan jahat, bahkan pula tidak mengetahui siapa dirinya dan apa tujuannya berada di dunia.

Penyebab gangguan Borderline Personality Disorder dapat terjadi sebab faktor lingkungan, yakni ketika penderita dulunya memiliki latar belakang kekerasan sosial terhadap dirinya, dicampakkan oleh keluarga, dan penyiksaan. Namun BPD juga dapat terjadi karena ciri kepribadiannya sendiri, seseorang yang memiliki sifat agresif dan implusif lebih berisiko mengalaminya. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan kelainan pada struktur dan fungsi otak, salah satunya pada zat kimia otak. Pada penelitian, berpendapat bahwa sebuah kelainan zat fungsi neurotransmitter menyebabkan terganggunya pengaturan impuls dan emosi dalam otak sehingga terjadilah penyakit BPD.



Cara mengatasi dan menyembuhkan gangguan mental ini dapat dilakukan pertama dengan memeriksakan ke terapis, dimana penderita harus menjalani psikoterapi rutin seperti Dialectical behavior therapy (DBT), Mentalization-based therapy (MBT), Schema-focused therapy, Transference-focused psychotherapy (TFP) atau terapi psikodinamis, General psychiatric management, Pelatihan sistem untuk prediktabilitas emosional dan pemecahan masalah atausystems training for emotional predictability and problem-solving (STEPPS) (Alodokter.com, 2018). Selain itu, mengonsumsi obat-obatan tertentu namun harus sesuai resep dokter adalah cara penyembuhan lain BPD. Di samping itu semua sebenarnya, gangguan BPD pun dapat dicegah dengan menyayangi diri sendiri, berusaha memecahkan masalah pribadi hingga terselesaikan, dan merubah sikap buruk semacam keagresifan, pemikiran disosiatif, dan perasaan membenci diri yang nantinya akan merusak diri sendiri.

Kesehatan mental secara global dapat dijaga dengan usaha yang dapat mencegah adanya gangguan mental yang berdatangan sebab faktor-faktor tertentu. Menurut Kartika Sari Dewi (dalam buku ajar “Kesehatan Mental”, 2012), intervensi kesehatan mental merupakan usaha-usaha yang bersifat pencegahan berkembangnya gangguan mental dan permasalahan psikososial terkait pada komunitas tertentu, dengan bentuk utama usahanya dalam bentuk dukungan dan pemberdayaan. Pada kegiatan pemberdayaan keluarga, diartikan sebagai usaha-usaha pencegahan berkembangnya gangguan mental dan peoblematika psikososial dengan melakukan dukungan dan psikoedukasi pada keluarga sebagai kelompok terkecil dalam komunitas, untuk memberikan pemahaman, bimbingan, mediasi, serta kesempatan bagi keluarga sebagai agen kesehatan mental komunitas. Whittingham Beers (dalam buku ”A Mind That Found Itself”, 1908) berpendapat bahwa penanganan penderita gangguan mental, lebih baik dilakukan sejak tahap pencegahannya, yaitu : [1] Pengembangan perbaikan dalam perawatan dan terapi terhadap penderita gangguan mental; [2] Penyebaran informasi yang mengarah pada sikap inteligen dan humanis pada penderita gangguan mental; [3] Mengadakan riset terkait; [4] Mengembangkan praktik pencegahan gangguan mental.

Sebenarnya, apabila ditinjau kesimpulan paling umum, individu harus bisa belajar mencintai diri sendiri, menerima diri apa adanya, dan bersyukur akan pemberian yang Tuhan mereka beri. Dengan begitu, tidak hanya kesehatan fisik yang terjaga, namun kesehatan mental individu pun juga ikut tersayangi. Namun, apabila individu telah memiliki sebuah permasalahan dalam dirinya, baik mental maupun fisik, segeralah untuk memeriksakan kepada tenaga-tenaga kesehatan. Karena tujuan semua manusia pasti juga menginginkan kebahagiaan dan kesejahteraan, terutama kesehatan.


 



Audyva Irefilevitasari Alifia

Fakultas Ilmu Komputer, Prodi Teknik Informatika

Universitas Brawijaya

Cluster 55

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar