Sehat
merupakan suatu keadaan yang dinyatakan sebagai kesejahteraan sempurna, baik
pada fisik, mental, lingkungan, dan sosialnya, memiliki karakter yang kuat
dengan sifat-sifat kebajikan, serta terbebas dari keadaan berpenyakit dan
lemah. Menurut UU Kesehatan No. 23/ 1992, mendefinisikan bahwa sehat adalah
suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap
manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. Dalam kasus
ini, kesehatan yang sering ditinjau adalah masalah kesehatan fisik dan mental.
Ketika kesehatan fisik seseorang dapat disadari oleh pribadi itu sendiri, namun
tidak untuk kesehatan mental. World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan
bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari
individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres
kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan
serta di komunitasnya.
Ditinjau
dari banyaknya kasus, salah satu jenis penyakit mental yang tergolong ‘sangat
umum’ di Indonesia adalah penyakit BPD (Borderline Personality Disorder), dalam
Bahasa Indonesia : “Gangguan kepribadian ambang”.
Penderita gangguan mental ini bahkan mencapai 2 juta kasus per tahunnya di
Indonesia. Cukup serius, Borderline Personality Disorder merupakan penyakit
mental yang melibatkan emosi dan pikiran penderitanya, terkadang mereka memiliki
masalah terhadap hubungan antar manusia yang tidak stabil disebabkan perasaan
yang tak menentu. Gejala-gejalanya yakni ketika penderita memiliki ketakutan
untuk ditinggalkan. Mereka akan merasa depresi, marah, dan gelisah jika mereka
diabaikan atau ditinggalkan, misalnya ketakutan akan ditinggal keluarga, teman,
dan sahabat. Selain itu, ada pula penderita memiliki hubungan yang tidak stabil
pada relasinya, contohnya ketika mereka memiliki keluarga atau seseorang yang
dicintai, namun tidak jelasnya tiba-tiba membenci mereka tanpa alasan tertentu.
Penderita BPD juga memiliki sifat impulsif, yakni melakukan tindakan seperti
berjudi, narkoba, bahkan menyakiti diri sendiri. Tanda inilah yang memiliki
tingkat berbahaya bagi nyawa ketika penderita BPD menyakiti diri sendiri hingga
memiliki keinginan untuk bunuh diri. Dilansir dari hellosehat.com, sekitar 4-9%
dari seluruh penderita BPD memiliki kecenderungan niat untuk bunuh diri atau
melakukan percobaan bunuh diri. Perilaku ini pun didasari pula oleh sifat pribadi
yang memandang akan tidak jelasnya citra diri sendiri. Penderita terkadang
memiliki sifat optimis terhadap diri sendiri, namun seiring perubahan pola
pikir dan presepsi terhadap dirinya yang tidak stabil membuatnya memandang
rendah dan membenci diri sendiri. Mereka menilai diri mereka buruk dan jahat,
bahkan pula tidak mengetahui siapa dirinya dan apa tujuannya berada di dunia.
Penyebab gangguan Borderline Personality Disorder dapat terjadi sebab faktor lingkungan, yakni ketika
penderita dulunya memiliki latar belakang kekerasan sosial terhadap dirinya,
dicampakkan oleh keluarga, dan penyiksaan. Namun BPD juga dapat terjadi karena
ciri kepribadiannya sendiri, seseorang yang memiliki sifat agresif dan implusif
lebih berisiko mengalaminya. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan kelainan pada
struktur dan fungsi otak, salah satunya pada zat kimia otak. Pada penelitian,
berpendapat bahwa sebuah kelainan zat fungsi neurotransmitter menyebabkan terganggunya pengaturan impuls dan emosi
dalam otak sehingga terjadilah penyakit BPD.
Cara
mengatasi dan menyembuhkan gangguan mental ini dapat dilakukan pertama dengan
memeriksakan ke terapis, dimana penderita harus menjalani psikoterapi rutin
seperti Dialectical behavior therapy (DBT), Mentalization-based therapy (MBT),
Schema-focused therapy, Transference-focused psychotherapy (TFP) atau terapi
psikodinamis, General psychiatric management, Pelatihan sistem untuk
prediktabilitas emosional dan pemecahan masalah atausystems training for emotional
predictability and problem-solving (STEPPS) (Alodokter.com, 2018). Selain itu,
mengonsumsi obat-obatan tertentu namun harus sesuai resep dokter adalah cara
penyembuhan lain BPD. Di samping itu semua sebenarnya, gangguan BPD pun dapat
dicegah dengan menyayangi diri sendiri, berusaha memecahkan masalah pribadi
hingga terselesaikan, dan merubah sikap buruk semacam keagresifan, pemikiran
disosiatif, dan perasaan membenci diri yang
nantinya akan merusak diri sendiri.
Kesehatan mental secara global dapat dijaga dengan usaha yang
dapat mencegah adanya gangguan mental yang berdatangan sebab
faktor-faktor tertentu. Menurut Kartika Sari Dewi (dalam buku ajar “Kesehatan
Mental”, 2012), intervensi kesehatan mental merupakan usaha-usaha yang bersifat
pencegahan berkembangnya gangguan mental dan permasalahan psikososial terkait
pada komunitas tertentu, dengan bentuk utama usahanya dalam bentuk dukungan dan
pemberdayaan. Pada kegiatan pemberdayaan keluarga, diartikan sebagai
usaha-usaha pencegahan berkembangnya gangguan mental dan peoblematika
psikososial dengan melakukan dukungan dan psikoedukasi pada keluarga sebagai
kelompok terkecil dalam komunitas, untuk memberikan pemahaman, bimbingan,
mediasi, serta kesempatan bagi keluarga sebagai agen kesehatan mental
komunitas. Whittingham Beers (dalam buku ”A Mind That Found Itself”, 1908) berpendapat
bahwa penanganan penderita gangguan mental, lebih baik dilakukan sejak tahap
pencegahannya, yaitu : [1] Pengembangan perbaikan dalam perawatan dan terapi terhadap
penderita gangguan mental; [2] Penyebaran informasi yang mengarah pada sikap
inteligen dan humanis pada penderita gangguan mental; [3] Mengadakan riset
terkait; [4] Mengembangkan praktik pencegahan gangguan mental.
Sebenarnya,
apabila ditinjau kesimpulan paling umum,
individu harus bisa belajar mencintai diri sendiri, menerima diri apa adanya,
dan bersyukur akan pemberian yang Tuhan mereka beri. Dengan begitu, tidak hanya
kesehatan fisik yang terjaga, namun kesehatan mental individu pun juga ikut
tersayangi. Namun, apabila individu telah memiliki sebuah permasalahan dalam
dirinya, baik mental maupun fisik, segeralah untuk memeriksakan kepada tenaga-tenaga
kesehatan. Karena tujuan semua manusia pasti juga menginginkan kebahagiaan dan kesejahteraan,
terutama kesehatan.
Audyva Irefilevitasari
Alifia
Fakultas Ilmu Komputer,
Prodi Teknik Informatika
Universitas Brawijaya
Cluster 55


Tidak ada komentar:
Posting Komentar