Minggu, 04 Oktober 2020

Motivation Letter : Indah Bukan Berarti Sempurna

For all of you,

Dear Visitors

Writer : Audyva

 

Hai dunia! Perkenalkan, namaku Audyva Irefilevitasari Alifia, panggil saja Audi, Dyva, Levi, atau Yaya. Ah, itu terserah kalian. Aku seorang mahasiswa Universitas Brawijaya angkatan 2020.

Ya, di saat ini, di tahun aku menulis laman motivasi ini, mungkin saat-saat ini ada sebagian dari kalian memiliki masalah kalian sering memandang dirimu rendah, membenci dirimu, bahkan mengutuk dirimu. Na’udzubillah, jangan. Apa alasanmu bersikap seperti itu? Apakah karena insecure melihat seseorang jauh lebih di atasmu? Lingkunganmu yang kau pandang lebih sempurna dari dirimu sendiri?



Lipatgandakanlah usahamu

Apakah kalian sudah bisa memahaminya? Ketika kau tidak menyayangi dirimu sendiri karena terlahir di keluarga kurang mampu, jangan hanya merenung dan dengan mudahnya mengutuk kehidupanmu begitu saja. Kamu perlu berusaha! Bekerjalah dengan sungguh-sungguh hingga hidupmu menjadi mapan, bukan hanya merutuk saja!

Jika gagal, ubahlah tujuan atau tingkatan cita-cita yang lebih mudah

Tidak sedikit individu-individu yang melakukan hal ini demi masa depan cerahnya. Misalkan saja seorang anak yang sedari kecil berfisik kuat, pandai bela diri, dan mental baja sehingga ia terus bermimpi dan memutuskan untuk menjadi tentara saat dewasa. Namun, takdir berkata lain, di perjalanan hidupnya ia terkena miopia sehingga harus memakai kacamata, sama saja jawabannya bahwa ia tidak akan bisa menggapai cita-cita menjadi tentara lagi bukan? Tapi, jika seorang anak itu putus asa dan menyalahkan diri sendiri karena kekurangan fisik yang baru saja ia dapatkan, itu adalah pilihan terbodoh di hidupnya. Sungguh, banyak jalan lain untuk menggapai cita-cita lain yang menutupi cita-cita gagal. Ketika seorang anak itu tidak berkesempatan menjadi tentara, justru ia masih bisa berkesempatan ikut lomba bela diri daerah, nasional, hingga mengharumkan nama bangsa di kancah internasional apabila ia terus berusaha pantang menyerah. Seperti itu perumpamaannya.

Menerima kenyataan

Dear friends, cobalah untuk menerima dirimu sendiri. Apabila kau merasa menyayangi seseorang yang berharga bagimu, seperti keluarga, mengapa kamu malah tidak pernah menempatkan kasih sayang terhadap dirimu sendiri? Jika kamu terus menerus tidak menanamkan self-love, bukankah nanti kau sendiri yang akan menderita? Kesehatan lahir dan batinmu akan terganggu, dan justru itu malah membuat keluarga atau orang berharga bagimu khawatir padamu.

Bagaimana caranya kita self-love? Berdasarkan tema disini aku mencoba menjelaskan tentang cara mencintai ‘FISIK’ diri sendiri. Sebenarnya, banyak sekali bidang permasalahan akan self-love, namun umumnya kita-kita generasi saat ini biasanya lebih menonjolkan pada fisik kita yang salah satunya aku. Nah, pada kesempatan ini aku akan menggambarkan bagaimana pribadi semacam diriku yang dulunya tidak pernah menyayangi diri sendiri hanya karena fisik dan akhirnya mulai menerima dan menyayangi diri sendiri.

Contohkan saja seorang gadis lahir pada generasi Z, dimana generasi ini biasanya selalu menyibukkan diri untuk mempercantik diri mereka. Namun, tidak untuk gadis itu, hanya karena terlahir dengan wajah yang tidak cantik, ia merasa minder, merasa tidak akan disukai lingkungan dan lawan jenis. Justru pemikiran itu akan menimbulkan perilaku diri yang tidak disadari dapat benar-benar membuat pemikiran negatif tersebut malah terwujudkan. Seharusnya, seorang gadis itu perlu memiliki sikap kepercayaan diri, menampilkan segala kelebihan lain yang dimilikinya, berusaha untuk berbaur dan hiduplah dengan sifat-sifat kebajikan. Hasilnya? Masyarakat tentu akan terus mendukungmu, mengenalimu dengan baik, lingkunganmu terus memberikan respon positif padamu dan selalu memihakmu. Itulah mengapa, kita dalam kehidupan haruslah menanamkan sifat-sifat positif, buanglah rasa kecenderungan negatif yang hanya memperburuk keadaanmu saja.

Namun pun, masih ada jalan juga kalau kau ingin berusaha. Zaman sekarang sudah maju, penciptaan produk yang bermacam-macam benar-benar membantu seluruh manusia sekarang. Kalau ingin memperbaiki fisik, mudah saja dengan menggunakan semisal skincare atau menyamarkannya dengan make up. Semua itu sudah ada jalannya, tidak ada lah alasan kita untuk insecure.

Di samping itu lagi, coba berpikir. Kita semua orang Indonesia adalah manusia yang beragama, dan tentunya kita tahu bahwa dunia ini tidaklah kekal, kita hidup hanya sementara. Membenci diri sendiri hanya karena kekurangan fisik sangatlah konyol, pikirkanlah sisi lain, apakah jikalau kau terlahir cantik, rupamu akan penting untuk dibawa mati? Apakah di alam sesudah dunia nanti, masih ada yang menyanjungmu? Tidak, kan?

Semua yang terjadi pada dirimu, tolonglah untuk diterima dan dipahami. Masih baik kau bisa hidup dan bernapas, bisa merasakan bagaimana rasanya menginjak dunia. Dan bisa merasakan hidupmu yang aman dan damai di zaman milenial ini. Tidak menyayangi diri sendiri cuma karena kekurangan yang kau dapatkan di kehidupanmu, hanyalah bentuk sifat serakahmu saja. Seharusnya sebagai makhluk Tuhan, kita harus PANDAI-PANDAI BERSYUKUR atas apa yang diberikan-Nya pada kita semua. Tuhan itu Maha Adil, dibalik kekurangan kita, ada pula kelebihan kita. Dibalik kelebihan orang yang kita nilai, ada pula kekurangannya yang tidak kita ketahui. Tidak semua makhluk itu sempurna! Kita semua diuji oleh Tuhan dalam keadaan yang berbeda-beda.

 

Toh lagipula, bukannya kalau selalu beramal baik hingga masuk surga, kita semua nanti akan terlahir kembali menjadi sempurna?

 


 

Sincerly,

Audyva

Maaf apabila ada salah kata^^


Prodi Teknik Informatika Universitas Brawijaya

Cluster 55

 


Profil Gangguan BPD (Borderline Personality Disorder) sebagai Pencegah Gangguan Kesehatan Mental



Sehat merupakan suatu keadaan yang dinyatakan sebagai kesejahteraan sempurna, baik pada fisik, mental, lingkungan, dan sosialnya, memiliki karakter yang kuat dengan sifat-sifat kebajikan, serta terbebas dari keadaan berpenyakit dan lemah. Menurut UU Kesehatan No. 23/ 1992, mendefinisikan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. Dalam kasus ini, kesehatan yang sering ditinjau adalah masalah kesehatan fisik dan mental. Ketika kesehatan fisik seseorang dapat disadari oleh pribadi itu sendiri, namun tidak untuk kesehatan mental. World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.

Ditinjau dari banyaknya kasus, salah satu jenis penyakit mental yang tergolong ‘sangat umum’ di Indonesia adalah penyakit BPD (Borderline Personality Disorder), dalam Bahasa Indonesia : “Gangguan kepribadian ambang”. Penderita gangguan mental ini bahkan mencapai 2 juta kasus per tahunnya di Indonesia. Cukup serius, Borderline Personality Disorder merupakan penyakit mental yang melibatkan emosi dan pikiran penderitanya, terkadang mereka memiliki masalah terhadap hubungan antar manusia yang tidak stabil disebabkan perasaan yang tak menentu. Gejala-gejalanya yakni ketika penderita memiliki ketakutan untuk ditinggalkan. Mereka akan merasa depresi, marah, dan gelisah jika mereka diabaikan atau ditinggalkan, misalnya ketakutan akan ditinggal keluarga, teman, dan sahabat. Selain itu, ada pula penderita memiliki hubungan yang tidak stabil pada relasinya, contohnya ketika mereka memiliki keluarga atau seseorang yang dicintai, namun tidak jelasnya tiba-tiba membenci mereka tanpa alasan tertentu. Penderita BPD juga memiliki sifat impulsif, yakni melakukan tindakan seperti berjudi, narkoba, bahkan menyakiti diri sendiri. Tanda inilah yang memiliki tingkat berbahaya bagi nyawa ketika penderita BPD menyakiti diri sendiri hingga memiliki keinginan untuk bunuh diri. Dilansir dari hellosehat.com, sekitar 4-9% dari seluruh penderita BPD memiliki kecenderungan niat untuk bunuh diri atau melakukan percobaan bunuh diri. Perilaku ini pun didasari pula oleh sifat pribadi yang memandang akan tidak jelasnya citra diri sendiri. Penderita terkadang memiliki sifat optimis terhadap diri sendiri, namun seiring perubahan pola pikir dan presepsi terhadap dirinya yang tidak stabil membuatnya memandang rendah dan membenci diri sendiri. Mereka menilai diri mereka buruk dan jahat, bahkan pula tidak mengetahui siapa dirinya dan apa tujuannya berada di dunia.

Penyebab gangguan Borderline Personality Disorder dapat terjadi sebab faktor lingkungan, yakni ketika penderita dulunya memiliki latar belakang kekerasan sosial terhadap dirinya, dicampakkan oleh keluarga, dan penyiksaan. Namun BPD juga dapat terjadi karena ciri kepribadiannya sendiri, seseorang yang memiliki sifat agresif dan implusif lebih berisiko mengalaminya. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan kelainan pada struktur dan fungsi otak, salah satunya pada zat kimia otak. Pada penelitian, berpendapat bahwa sebuah kelainan zat fungsi neurotransmitter menyebabkan terganggunya pengaturan impuls dan emosi dalam otak sehingga terjadilah penyakit BPD.



Cara mengatasi dan menyembuhkan gangguan mental ini dapat dilakukan pertama dengan memeriksakan ke terapis, dimana penderita harus menjalani psikoterapi rutin seperti Dialectical behavior therapy (DBT), Mentalization-based therapy (MBT), Schema-focused therapy, Transference-focused psychotherapy (TFP) atau terapi psikodinamis, General psychiatric management, Pelatihan sistem untuk prediktabilitas emosional dan pemecahan masalah atausystems training for emotional predictability and problem-solving (STEPPS) (Alodokter.com, 2018). Selain itu, mengonsumsi obat-obatan tertentu namun harus sesuai resep dokter adalah cara penyembuhan lain BPD. Di samping itu semua sebenarnya, gangguan BPD pun dapat dicegah dengan menyayangi diri sendiri, berusaha memecahkan masalah pribadi hingga terselesaikan, dan merubah sikap buruk semacam keagresifan, pemikiran disosiatif, dan perasaan membenci diri yang nantinya akan merusak diri sendiri.

Kesehatan mental secara global dapat dijaga dengan usaha yang dapat mencegah adanya gangguan mental yang berdatangan sebab faktor-faktor tertentu. Menurut Kartika Sari Dewi (dalam buku ajar “Kesehatan Mental”, 2012), intervensi kesehatan mental merupakan usaha-usaha yang bersifat pencegahan berkembangnya gangguan mental dan permasalahan psikososial terkait pada komunitas tertentu, dengan bentuk utama usahanya dalam bentuk dukungan dan pemberdayaan. Pada kegiatan pemberdayaan keluarga, diartikan sebagai usaha-usaha pencegahan berkembangnya gangguan mental dan peoblematika psikososial dengan melakukan dukungan dan psikoedukasi pada keluarga sebagai kelompok terkecil dalam komunitas, untuk memberikan pemahaman, bimbingan, mediasi, serta kesempatan bagi keluarga sebagai agen kesehatan mental komunitas. Whittingham Beers (dalam buku ”A Mind That Found Itself”, 1908) berpendapat bahwa penanganan penderita gangguan mental, lebih baik dilakukan sejak tahap pencegahannya, yaitu : [1] Pengembangan perbaikan dalam perawatan dan terapi terhadap penderita gangguan mental; [2] Penyebaran informasi yang mengarah pada sikap inteligen dan humanis pada penderita gangguan mental; [3] Mengadakan riset terkait; [4] Mengembangkan praktik pencegahan gangguan mental.

Sebenarnya, apabila ditinjau kesimpulan paling umum, individu harus bisa belajar mencintai diri sendiri, menerima diri apa adanya, dan bersyukur akan pemberian yang Tuhan mereka beri. Dengan begitu, tidak hanya kesehatan fisik yang terjaga, namun kesehatan mental individu pun juga ikut tersayangi. Namun, apabila individu telah memiliki sebuah permasalahan dalam dirinya, baik mental maupun fisik, segeralah untuk memeriksakan kepada tenaga-tenaga kesehatan. Karena tujuan semua manusia pasti juga menginginkan kebahagiaan dan kesejahteraan, terutama kesehatan.